Rabu, 27 Juli 2016

Pembagian dan Makna Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13)

Bapa Kami ini dapat dibagi dalam 5 bagian, yakni:
1.   Ucapan syukur dan hormat pada Allah
Bapa kami yang disurga, sebutan ini mengacu pada Allah sebagai Bapa tempat mengadu, meminta, dan tumpuan segala pengharapan. Dengan memanggil Allah sebagai Bapa di surga, kita diangkat menjadi anak-anakNya yang terkasih.
Dikuduskanlah nama-Mu, Allah Bapa harus menjadi pusat hidup kita yang paling utama dengan memuliakan namaNya yang kudus. Seluruh hidup kita harus benar-benar menyatakan penyerahan diri yang mutlak kepada Allah.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga, ungkapan kerajaan Allah adalah pokok penting dalam pemberitaan tuhan Yesus. Datanglah kerajaan-Mu artinya kita memohon agar kemuliaan dan kehendak Allah nyata terjadi dalam dunia.
2.  Permohonan akan keperluan jasmani
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, permohonan ini menunjukkan bahwa Allah memperhatikan dan memelihara tubuh jasmani kita. Permohonan ini juga menunjukkan bahwa makanan yang kita terima berasal dan bersumber dari Allah.
3.  Permohonan akan keperluan rohani
Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah pada kami, Allah yang penuh kasih telah mengampuni dosa-dosa kita, oleh karena itu kita harus bersedia mengampuni kesalahan orang lain.
Dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat, setiap pencobaan yang kita alami tidak akan melebihi kekuatan kita, jika kita bergantung dan berharap pada-Nya. Karena Tuhan selalu beserta lita dan kita memperoleh pertahanan yang paling kuat untuk melawan pencobaan karena-Nya.
4.  Pengharapan akan kemuliaan Allah
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan Kuasa, dan Kemuliaan sampai selama-lamanya, pengakuan akan kemuliaan Allah akan menghibur dan menjamin hidup kita, karena segala kuasa dibumi dan disurga sudah berada dalam kuasa Tuhan.
5.  Amin
   Amin, sebagai penutup doa yang berarti ya atau demikanlah terjadi, ini adalah pengungkapan kemauan yang kokoh untuk melaksanakan kehendak Allah dan memohon kekuatan Allah untuk melakukan segala sesuatu yang ditugaskanNya dan harapkan dari kita.

Sumber:

Jumat, 22 Juli 2016

Refleksi 4: Melihat Masa Depan

Senin, 27 Juni 2016
Bacaan: 1 Tesalonika 4 : 13 – 5 :  11
Nats: 1 Tesalonika 4 : 14, 18; 1 Tesalonika 5 : 8, 11
Refleksi:
1.    Masa depan akan benar-benar terjadi, yakni ketika kita akhirnya akan bertemu langsung dengan Tuhan Yesus dan hidup bersama-Nya dalam kemuliaan kekal.
2.  Paulus menasihati kita untuk terus berjaga-jaga, bersiap menyambut Tuhan dengan menjalani hidup yang sepadan dengan pengharapan tersebut.
a.    Hidup yang penuh pengharapan
b.    Hidup yang menyenangkan Tuhan (tidak egois)

Sumber: Renungan Harian (Edisi Februari 2010)

Refleksi 3: Bukan Sekadar Kata


Minggu, 26 Juni 2016
Bacaan: Mazmur 45; Filipi 4 : 8
Nats: Mazmur 45 : 2, 5, 8
Refleksi:
1.     Kehidupan kita, seperti halnya tulisan yang jujur, menyatakan apa yang ada di dalam hati kita.
2.   Kehidupan kita akan menjadi baik jika perbendaharaan hati kita meluap-luap dengan perkara-perkara yang baik.

Sumber: Renungan Harian (Edisi Februari 2010)

Refleksi 2: Duta Allah


Sabtu, 25 Juni 2016
Bacaan: 1 Yohanes 4 : 7 – 12
Nats: 1 Yohanes 4 : 7, 11, 12
Refleksi:
1.     Menjadi duta Allah yakni dengan menjadi pribadi yang mengasihi.
2. Kasih nyata dari Tuhan hanya dapat orang lain rasakan melalui kasih yang kita tunjukkan (perbuataan).
3.    Yang Tuhan minta dari kita hanyalah ketaatan kita untuk mau mengasihi sesama.

Sumber: Renungan Harian (Edisi Februari 2010)

Kamis, 21 Juli 2016

Refleksi 1: Iman Yang Mahal

Jumat, 24 Juni 2016
Bacaan: 1 Petrus 1 : 3 – 9; Wahyu 2 : 8 – 11
Nats: 1 Petrus 1 : 6 – 7; Wahyu 2 : 10 – 11
Refleksi:
1.     Iman sama seperti cinta, teruji pada saat yang sulit.
2. Ketika iman kita tengah mengalami tantangan dan tentangan berbagai kesulitan, pandanglah itu sebagai kesempatan untuk “naik kelas”.
3.  Berjalanlah terus dalam iman. Melalui pertolongan Roh Kudus, pastikan semua itu berlalu (tantangan dan tentangan iman) dengan saya dan saudara sebagai pemenang.

 Sumber: Renungan Harian (Edisi Februari 2010)